Dialah Orangnya | The Story - Anastanindya | Kumpulan Cerpen
Photo by Nguyen Khanh Ly on Unsplash

Paginya aku mendapatkan sebuah telepon. Dari Kevin, memintaku untuk datang ke lapangan basket dekat tempat tinggalnya. Rumah indekos yang berada di dalam sebuah kompleks perumahan yang bisa dikatakan menengah ke atas. Tapi, aku rasa ia cukup beruntung, karena rumah itu adalah bangunan yang sudah agak lama jadi harga sewanya cukup murah di dalam tempat seperti itu. Nyaman, dan aman karena ada sekuriti yang bertugas baik untuk menjaga kompleks, maupun sekuriti khusus indekos itu sendiri.

Lapangan itu bukan lapangan basket yang sebenarnya, tapi hanya sebuah lapangan yang memiliki sepasang ring basket. Aku tidak yakin jika ukuran lapangannya sesuai standar atau tidak, karena memang itu adalah lapangan serbaguna.

Aku melihat dia sedang istirahat di sebuah kursi panjang tepat di bawah pohon yang tidak terlalu rindang tapi cukup untuk melindunginya dari matahari yang sudah mulai turun. Tidak hanya ada dia, tapi beberapa temannya juga seorang wanita. Ya, seorang wanita. Aku tahu dia siapa.

Aku berjalan, setengah berlari, menghampiri mereka semua. Aku tahu, Indri tidak mengenalku. Sebelumnya, kami pernah bertemu satu kali, tapi hanya pertemuan singkat di sebuah acara resepsi pernikahan, karena aku buru-buru pulang, tidak ingin berlama-lama di sana. Sisanya, aku hanya mendengar cerita Kevin, yang tidak terlalu sering ia bahas. Itu tidak bisa dikatakan bahwa kami saling mengenal, bukan?

“Hai!” sapaku tepat ketika aku sampai di hadapan mereka. Tentu saja semuanya mengenalku, kecuali wanita itu.

“Wah, Lun. Lo bawa apaan?” Rudi, si pria rambut cepak menunjuk pada kantung plastik yang aku bawah, yang bahkan aku sendiri melupakannya.

“Nih,” aku menyodorkannya dan Rudi mengambilnya. “Itu gue tadi buatin kalian sandwich tuna.”

Aku sering membuatnya karena Kevin menyukainya. Beruntung teman-temannya juga suka.

“Thanks banget, Lun. Eh, iya. Habis ini, kita mau jalan-jalan ke pasar malam, lo mau ikut? Kita mandi dulu tapi.”

Kalau saja Indri tidak ada di sana, mungkin jawaban ‘ya’ akan aku katakan secepat mungkin. Mereka semua menyenangkan, juga pasar malam itu tidak buruk.

“Maaf, Rud. Lain kali aja deh. Gue pengen pulang aja abis ini.”

“Yah, jadi lo ke sini cuma buat nganterin ini?”

Sebenarnya, tentu saja tidak. Aku ingin bertemu Kevin. Tapi, tidak mungkin aku mengatakannya. Jadi, aku hanya tersenyum dan menggedikkan bahu. Lagi, dan lagi, aku hanya melakukan itu setiap pertanyaan mengenai Kevin muncul.

“Maaf ya Lun, gue enggak bisa nganterin lo. Gue harus nganterin Indri pulang dulu soalnya, gue juga enggak bisa ikut ke sana ya, bro.” Antara senang juga kecewa. Itu yang aku rasakan ketika mendengar kata-kata itu. Senang karena setidaknya dia masih ingat bahwa aku ada di sana, tapi juga kecewa yang tidak bisa aku sangkal. Tidak perlu kujelaskan mengapa. Kevin pernah cerita, Indri tidak suka pasar malam. Aku tidak tahu alasannya, paling-paling alasan klise para wanita. Banyak nyamuk dan kotor.

“Santai, Vin. Gue bisa pulang sendiri.”

Dialah Orangnya
Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *