Review : Praise of Death | Anastanindya - Where The Story's Begin

Baru-baru ini ada drama korea yang menarik perhatian. Hanya terdiri dari 3 episode. Drama yang singkat bukan? Buat yang penasaran, jangan heran kalau yang tertera adalah 6 episode, karena durasinya masing-masing sekitar 30 menit dan ditayangkan 2 episode per-hari. 

Judulnya Praise of Death, atau 사의찬미. Drama ini diperankan oleh Lee Jong Suk sebagai Kim Woo Jin, seorang penulis drama panggung dan Shin Hye Sun sebagai Yun Sim Deok, seorang penyanyi sopran Korea pertama.

Pertama kali tahu drama ini karena melihat berbagai situs maupun akun instagram yang membahasnya. Awalnya aku juga tidak tahu apakah ulasan itu ada karena pemeran utama prianya adalah Lee Jong Suk atau memang dramanya bagus. Tapi ketika mencoba menontonnya sendiri, harus aku acungi jempol, baik dari ceritanya, akting dari para pemain, juga dari sinematografinya.

Konon katanya, Praise of Death ini diadopsi dari kisah nyata dengan nama tokoh yang sama di tahun 1920-an, ketika Korea masih berada dalam pendudukan Jepang, dan sudah diadaptasi ke film maupun drama musikal.

Cerita dimulai ketika Yun Shim Deok terlibat dalam drama yang dipimpin oleh Kim Woo Jin. Mereka memiliki mimpi ketika itu untuk membawakan sebuah pertunjukan drama di negara mereka sendiri menggunakan bahasa mereka. Begitu pula Shim Deok yang memiliki mimpi untuk menjadi seorang penyanyi.

Setelah hari demi hari mereka lalui bersama, juga dengan berbagai kesulitan yang ada selama pementasan drama, tumbuh benih-benih cinta di antara Shim Deok dan Woo jin. Namun kala itu, Woo Jin sadar jika ia sudah menikah dengan seorang wanita pilihan keluarganya. 

Kalau dilihat dengan kacamata masa kini, pasti sudah melabeli wanita itu dengan sebutan pelakor atau apapun itu. Namun, dalam drama ini, yang aku lihat bukan semata-mata perselingkuhan atau apapun itu, tapi lebih kepada bagaimana kehidupan di jaman dahulu yang masih kental dengan perbedaan derajat atau kasta, juga dengan anak yang hampir tidak memiliki kendali atas dirinya sendiri karena menghormati keputusan orang tuanya. Itulah yang diceritakan dalam drama ini.

Woo Jin menikah diusia yang sangat muda dengan wanita pilihan ayahnya bahkan tanpa mengenal wanita itu terlebih dahulu, kemudian dituntut untuk meneruskan bisnis keluarga, dan juga terkekang karena tidak bisa meneruskan dan melakukan apa yang menjadi passion-nya selama ini, yaitu menulis.

Tidak jauh berbeda dengan Shim Deok yang dituntut untuk menjadi tulang punggung keluarga karena ia adalah anak tertua. Dipaksa menikah dengan keluarga kaya hanya untuk menaikkan derajat keluarga.

Jujur saja drama ini benar-benar menyayat hati karena mereka kala itu tidak bisa melakukan apa yang mereka inginkan, bahkan ketika uang sudah mereka miliki, dalam hal ini adalah posisi Woo jin. Apalagi ketika cinta sudah benar-benar mengikat mereka, namun tidak bisa disatukan. Hingga pada akhirnya mereka memilih untuk beristirahat dengan tenang dengan melompat bersama dari kapal yang mereka tumpangi.

Aku pribadi ga menyayangkan ending yang seperti ini, karena dari sisi kehidupan mereka, itulah pilihan mereka. Ya, memang kisah aslinya seperti itu, dan pada akhirnya Yun Shim Deok dikenal sebagai penyanyi pop Korea pertama dengan lagunya yang berjudul Praise of Death. Coba dengerin, dan itu lagunya bener-bener sedih dan putus asa. 

Review : Praise of Death
Tagged on:             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *