Harapan Kosong | Anastanindya - The Story | Cerpen
Photo by Toa Heftiba on Unsplash

Deru kendaraan bermotor masih terdengar ramai. Klakson sahut menyahut. Teriakan kesal seseorang—atau beberapa orang. Juga aroma kopi yang memenuhi seisi ruangan. Dari dalam sini, aku bisa merasakan semuanya., mendengar semuanya. Wajar, karena aku duduk di dekat jendela yang terbuka, di lantai dua. Bukan smoking area, tapi memang di desain demikian, dengan mengutamakan suasana cozy, temaram, dengan kesan ‘cinta lingkungan’.

Jika dihadapanku ada microphone, mungkin suara helaan nafasku akan terdengar sangat kencang, dan orang pasti akan mengomeliku. Lagi, lagi, lagi. Aku hanya menghela napas. Bahkan, bunga tulip pada vanilla latteku masih tampak sempurna, belum tersentuh sama sekali. 

Satu jam yang lalu, aku bertemu dengan dia. Namanya Raka. Raka Adisaputra. Aku akan menceritakan sedikit tentang dia.

Aku mengenalnya sudah sejak 2 tahun yang lalu, atau lebih? Entahlah. Aku malas menghitung. Jadi anggap saja demikan. Dia temanku. Setidaknya, pada awalnya aku menganggapnya demikian. Temanku. Walau kami tidak sedekat itu, dulu. Tapi, aku tidak tahu sejak kapan perasaanku pelan-pelan mulai berubah. Menjadi sebuah asa. Menjadi sebuah pengharapan.

Aku sering mendengar ucapan-ucapan bullshit tentang cinta, semua tentang harapan kosong, dimana wanita tidak bisa memulai. Dimana wanita tidak boleh berharap. Tidak semua memang, tapi itulah adanya. Banyak yang masih menganggap demikian.

Setiap hari, hal yang kunantikan adalah bertemu dia. Selain mengenai pekerjaanku, atau apapun hal lainnya, tapi dia selalu menjadi salah satunya. Hal bodoh apa yang kulakukan? Menunggunya di halte busway. Itu hal terbodoh yang sering kali aku lakukan. Berharap kita bertemu di sana, lalu naik bus bersama-sama. Kebetulan kami naik bus yang sama, di halte yang sama ketika pulang. Walau tujuan kami berbeda.

Hal yang menyenangkan ketika hari demi hari membuat kami semakin dekat. Walau definisinya hanya “berteman”. Aku tahu, dengan segala doktrin yang ada, aku tidak ingin berharap, lebih tepatnya aku takut untuk memiliki harapan. Tapi, walau demikian, aku tidak mundur. Karena jauh di dalam sana, berbeda dengan yang kuucapkan barusan.

Hingga pada akhirnya, pada hari ini, aku memutuskan untuk menerbitkan harapan itu. Kami, bertemu di sini. Tapi, kemudian aku tahu bahwa itu semua adalah harapan kosong.

Harapan Kosong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *