Sahabat Terbaik | Anastanindya - The Story | Cerpen
Photo by freestocks on Unsplash

Ricuh dan bising. Segala suasana menggambarkan kebahagian terpancar dari segala mimik di depan papan pengumuman. Sudah satu jam berlalu sejak Pak Burhan menempelkan nama-nama siswa yang sudah dinyatakan melepas status sebagai siswa SMA Lentera Kasih. Beruntung, kebahagiaan ini dirasakan tanpa terkecuali.

Aku melihat namaku dengan pandangan berkaca-kaca. Merasakan sebuah atmosfir asing yang menyelimutiku. Ada rasa senang, haru, sedih, juga segala macam perasaan yang berkecamuk dalam diriku. Aku senang, pada akhirnya kami semua akan berjuang di level yang lebih lanjut demi meraih segala mimpi, tapi ada sebagian dari diriku yang mendadak merindukan masa-masa yang terjadi sebelum hari ini.

Ah, itu dia. Sahabat terbaik yang ku punya, si tutor andalan di setiap ujian, dan si ranking satu di sekolah. Tentu saja, namanya terpampang dengan gagah di daftar paling atas. Melihatnya berjalan ke arahku, membuatku tergoda untuk menghampirinya terlebih dahulu. Dia lah yang sepertinya akan menjadi sosok yang paling kurindukan. 

“Wih, Rendy selamat ya.” Sontak, ia menerima uluran tanganku, berjabatan tangan yang singkat.

Wajahnya memerah. Selalu seperti itu. Aku heran. Dia sudah pintar dan cerdas dari jaman orok, tapi entah mengapa dia tidak pernah sadar. Setiap pujian yang dia dapatkan, selalu saja membuatnya tersipu seperti itu. Seolah tidak siap.

Di sekitarku kini tidak lagi hiruk pikuk anak kelas dua belas dengan euforianya masing-masing, melainkan hanya tanaman-tanaman rendah yang membentuk sebuah taman, juga kolam ikan di hadapan kami.

“Bentar lagi kita kuliah ya. Pisah sama teman-teman. Ren, kira-kira gimana ya kehidupan kita setelah lulus dari SMA ini. Kok mendadak gue enggak siap ya.”

Dia menertawaiku. Entah tawa yang memiliki makna seperti apa, yang jelas dia tertawa spontan tepat setelah kata-kataku terlontar.

“Kenapa emangnya?” tanyanya di sela-sela tawa menyebalkan itu. “Jangan menghawatirkan hal-hal yang enggak pasti, deh. Lagian, lo pasti nanti juga ketemu orang-orang baru. Sama teman lama pun, kalau lo enggak lepas kontak gitu aja, hubungan pasti masih terjaga dengan baik, kok.”

Mendengarnya mungkin terasa mudah. Tapi, tidak bagiku. Apa aku siap? Suasana yang sama sekali berbeda akan menyambutku nanti. Bahkan, sampai saat ini aku belum tahu, tempat dan lingkungan seperti apa yang akan menjadi kelanjutan dari kisahku. Berharap dan berusaha boleh, tapi kenyataannya semuanya belum diputuskan.

“Ren, apa kita bakal satu kampus ya?”

Dia menggedikkan bahunya. “Gue juga enggak tahu Michelle. Untuk sementara, sih, harapan kita sama.” Aku tahu dia mengincar jurusan teknik sipil di kampus yang sama dengan jurusan gizi yang ku pilih. Tapi, pengumuman masih dua minggu lagi.

Aku dan dia. Dalam kesepakatan yang kami buat tanpa kata, kami hanya sahabat baik. Tanpa rasa, tanpa ikatan. Tapi, saat ini, aku juga tidak tahu mengapa kenyataan dan kekhawatiran mengenai perpisahan ini membuatku takut. Aku takut jika pada akhirnya kamu dan aku menjalani kehidupan masing-masing, saling menjauh dan asik dengan dunia yang baru. Apalagi sampai melupakan kisah yang sudah kita alami bersama.

“Ren, selepas ini, apa lo sama gue tetep sama?”

Dia memutar duduknya, menaikkan salah satu kakinya ke atas kursi, demi menghadapku dengan sempurna. “Sebenarnya apa yang lo pikirin? Chel, lo itu sahabat terbaik gue dari orok. Dimanapun kita berada, gue akan selalu ada untuk lo.”

Kata-kata itu yang kini membuatku tenang. Entah nantinya hanya menjadi kata-kata belaka yang menciptakan segala harapan, tapi setidaknya biarlah aku menganggapnya sungguhan untuk saat ini.

Sahabat Terbaik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *