Tetes Air Mata | Anastanindya - The Story | Cerpen
Photo by Luis Galvez on Unsplash

Aku ini bukan tipe orang yang mudah menangis karena hal-hal emosional yang jika dialami oleh orang lain, mungkin dia sudah mengucurkan tetes air mata, atau bahkan menangis tersedu-sedu. Tapi, aku tidak. Apalagi jika itu di depan orang lain, atau kejadian yang terlalu mendadak. Namun, jika dikatakan seperti itu, tidak juga. Terkadang, jika aku melihat sebuah kejadian yang menyedihkan seperti film, atau teringat akan sebuah kenangan, aku akan meneteskan butiran itu.

Sama seperti malam itu di hari ulang tahunku yang ke 27. Aku mendengar kabar yang tak pernah aku bayangkan, dua jam sebelum tengah malam.

Pukul sepuluh malam, seseorang menghubungiku. Mungkin orang itu menelponku alih-alih keluarganya karena dia baru saja menelponku satu jam yang lalu, memastikan aku aman di dalam kereta. Bisa jadi aku adalah orang terakhir yang dihubunginya. Atau mungkin, dia menjadikanku salah satu dari nomor telepon darurat ada dalam listnya. Entahlah, tapi yang jelas, telepon malam itu adalah telepon yang sangat tidak aku inginkan. Kabar yang merenggut segala kebahagiaanku selama ini, menjatuhkanku dari tebing tertinggi hingga palung terdalam. Tepat ketika justru aku mau mulai melepasnya.

Saat itu, aku sama sekali tidak menangis. Pikiranku kosong dan linglung. Aku tidak tahu apa yang harus kupakai, aku tidak tahu apa yang harus aku bawa, aku bahkan tidak tahu yang harus aku lakukan kala itu. Seluruh tubuhku rasanya seperti beku. Bernafas saja pun rasanya aku lupa.

Hari itu hujan, tapi tidak terlalu deras. Hingga besok paginya, tidak ada satu pun air mata yang jatuh. Semua orang termasuk orang tuanya, juga adik perempuannya, semuanya menangis. Rasanya, menenangkan mereka adalah halyang harus aku lakukan. Jika orang bilang aku tidak punya hati, silahkan saja. Mereka tidak tahu apa yang aku rasakan hari itu. Segalanya terjadi seperti mimpi, terlalu mendadak, hingga tubuh dan hatiku belum siap. Aku berulang kali berkata dalam hati, ‘Ini hanya mimpi’. Tapi kemudian aku sadar, semua bukan mimpi. Aku tidak akan pernah bisa lagi melihat tawanya. Aku tidak akan lagi melihat lesung pipinya. Aku tidak akan pernah bisa lagi mendengar suaranya. Aku juga tidak akan pernah menghirup aroma itu lagi.

Jika hari itu tidak ada satupun tetes air mata yang jatuh, setelahnya, semua tidak terkendali setiap saat aku mengingat segalanya.

Tetes Air Mata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *