Song For You | The Story - Anastanindya | Cerpen
Song For You
Photo by Alphacolor on Unsplash

Langit di luar sudah mulai gelap. Matahari perlahan beralih ke bagian dunia lain. Membawa cahayanya ikut serta. Jalanan di Jakarta juga masih betah dilalui mobil-mobil tanpa henti, yang saling meneriakan bunyi klakson. 

Susan sudah berada di apartemennya sejam lalu. Maklum, jarak dari kantor ke rumahnya bisa ditempuh setengah jam dengan jalan kaki—melalui jalan pintas—atau 15 menit dengan kendaraan bermotor. Ia hampir tidak pernah membawa kendaraan. Macet, pikirnya. Lagipula, ojek online kini bertebaran. Mudah diakses kapanpun kita mau. Selama ada sinyal dan kuota internet—serta uang, tentunya—semua menjadi mudah. 

“Sepertinya mi rebus enak,” gumamnya pada dirinya sendiri.

Susan membuka laci dapurnya, mencari sebungkus mi instan. Ia sendiri tidak ingat apakah ia masih memilikinya atau tidak. Terakhir kali, kira-kira sebulan lalu, rasanya.

“Ini dia.” ujarnya bahagia. Ia cepat-cepat menuangkan air ke dalam panci, meletakannya di atas kompor, dan menyalakannya. 

Alunan instrumen piano yang indah mengiringinya. Bersahut-sahutan dengan suara gelembung air dari dalam panci, disusul suara bel beberapa menit kemudian.

Siapa?

Susan mengecilkan api kompor, melepas apron, dan berjalan ke arah pintu. Senyumnya merekah ketika melihat siapa yang datang. Seorang pria. Rambutnya sedikit berantakan, namun wajahnya tetap tampak segar—setidaknya bagi Susan.

Pria itu melangkah masuk. Ia menarik napas dalam, lalu menoleh, menatap Susan. “Kamu masak mi rebus, ya?”

Susan berjalan ke dapur, mendahuluinya. “Kamu mau?”

Pria itu menggedikkan bahunya, tanda setuju. “Boleh aja. Kebetulan aku belum makan tadi.”

Susan menggelengkan kepalanya cepat, “Patungan aja, ya? Tinggal satu soalnya.”

Pria itu menghampiri Susan, menatapnya miris, lalu menjentik hidungnya. “Dasar. Buat kamu aja kalau gitu. Aku enggak mau kamu pingsan kelaparan gara-gara mau sok-sokan romantis.”

Keduanya tertawa. 

Mi di dalam panci tampak sudah mengembang dengan sempurnya. Susan mengaduknya sejenak, lalu menuangkannya ke dalam mangkuk berisi bumbu.

“Ah.” Pria itu setengah berteriak. 

Susan menaruh kembali panci yang sudah kosong ke atas kompor, lalu bertanya dengan bingung. “Ada apa? Kena cipratan air panas?”

Pria itu menggeleng. “Itu laguku. Kamu mendengarkannya?”

Susan tersadar. Wajahnya memanas. Ia mengambil mangkuknya, lalu berjalan menuju meja pantry. “Kenapa memangnya kalau aku menyukainya?”

Ya, Susan menyukainya. Hampir setiap hari, di sela-sela waktunya—bahkan ketika ia bekerja—musik karangan Richard Mikael selalu mengiringinya. 

Richard mengeluarkan ponselnya, memasangkan headset. Ia memberikannya pada Susan. 

“Aku belum pernah mendengarnya.” Susan menyipitkan matanya, berusaha menikmati alunan lagu. “ini lagu baru?”

Pria itu mengangguk.

“Waw, ini luar biasa. Manis, tidak berlebihan, seperti biasanya, namun selalu dengan warna baru. Kamu jenius.”

“Ini lagu untukmu.”

Susan menatap kedua matanya, tanpa berkata apapun.

“Aku membuatnya untukmu.” Richard mengerling kepada Susan. Tersenyum tipis.

Song For You

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *