Hanya Teman Baik - The Story | Anastanindya
Photo by andrew welch on Unsplash

“Mar, apa yang lo pikir tentang gue?” Entah bagaimana aku memberanikan diri untuk bertanya. Sebuah pertanyaan yang sudah bertahun-tahun aku pendam kini terlontar. Di tengah temaram kafe yang hangat dalam situasi hujan lebat di luar dan badan sedikit basah. Dingin memang, namun tangan gemetarku berasal dari degup jantung yang tidak bisa aku kendalikan. Rasanya ingin aku bersembunyi dibalik pohon di pinggir kafe, tapi nyatanya pohon itu terlalu kecil untuk menyembunyikan rasa maluku.

Marla tampak berpikir. Matanya yang bulat tidak bisa ditutupi. Aku tahu dia bingung. Tapi gayanya yang santai kemudian membuatnya tampak hanya menganggap kata-kata itu berasal dari teman baiknya ini. Ya teman baik. Aku rasa kami adalah teman baik.

“Lo, ya? Ehm… lo itu temen gue yang baik, lucu. Selalu ada ketika temen-temen lo butuh. Terus, lo juga cukup tampan. Boleh lah jadi gandengan kalo ke mall atau ke kondangan. Gak malu-maluin.”

Dadaku rasanya entah bagaimana menjadi sesak. Bukan karena tiba-tiba aku mengidap penyakit kronis atau apa. Tapi rasanya campur aduk ketika wanita di hadapanku ini mengatakan bahwa aku adalah teman yang baik. Sekali lagi ‘teman—yang—baik’. Tapi sekali lagi, aku pun senang, merasa diandalkan.

“Lo kenapa sih, Win? Kok tiba-tiba jadi melankolis gini, nanyain ginian pula.”

“Ah, eengg.” Aku ingin memperjelas semuanya. “Kalau gue sebagai pria, gimana?”

“Kenapa? Lo naksir gue, kah?”

Degg.. tembakan tepat sasaran. Seorang Darwin Arya Manggalih bisa jadi sekikuk ini.

“Iya, udah dari lama.” Tolong sembunyikan aku dari sini. Ingin kabur tapi di luar hujan masih terlalu deras. Aku bisa melihat Marla bingung ingin memberikan respon seperti apa. Tapi jujur, aku tidak bisa membaca raut itu, apakah bahagia atau kecewa. Atau biasa saja. Hanya keterkejutan yang singkat. Entahlah. Biasanya aku seolah menjadi seseorang yang paling mengenalnya, tapi kemampuan itu rasanya sekarang hilang tak berbekas.

Marla tampak menghela napas panjang sebelum memberikan respon yang sesungguhnya. Berulang kali. “Darwin. Lo serius, atau becanda?”

“Gue serius. Entah dari kapan. Tapi yang pasti perasaan gue ke lo lebih dari teman.”

“Tapi, Win. Lo tau kalo—”

Aku tidak ingin mendengar kelanjutan dari kata-katanya. Aku tahu dengan pasti apa yang ingin dia bicarakan. Alasan itu juga yang membuatku tidak pernah berani untuk bicara. Tapi sampai kapan aku harus bungkam. Akupun tahu jika ini tidak berjalan lancer, aku harus kehilangannya. Mungkin tidak sepenuhnya, tapi semuanya akan terasa berbeda.

“Gue tau, Mar. Orang tua lo mungkin gak akan bisa terima gue. Jadi temen lo aja udah sering disindir terus. Ya walau bukan ke arah buruk. Tapi gue paham kok gimana strict-nya orang tua lo.”

“Maafin gue, Win. Gue enggak bisa.”

Hanya Teman Baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *